Cantik, Lelaki, dan Jatuh Cinta dalam Perspektif Agama Islam
“Wess”, “Wedan”, “Gila lah”, “Mantep”, mungkin ini semua komen yang akan keluar dari memulai baca post ini. Kenapa engga? Mana mungkin seseorang seperti saya bicara layaknya ustadzah soal agama islam? Memang. Postingan ini bukan saya tunjukkan untuk mencari simpati dan perhatian, melainkan, untuk menceritakan bagaimana pada akhirnya saya mulai mantap untuk berhijab. Mungkin, agak kaku juga bagi pembaca yang menanggapi cara saya bertutur kata di sini, iya, pasti janggal deh. Biasanya kan saya bicara “urang”, “anjing”, “goblok”, dan semua ucapan najis lainnya. Inilah cerita saya.
Diceritakan bahwa saya ini adalah seorang gadis yang introvert dan berlatar belakang keluarga yang keras, seolah kekerasan itu sudah terukir dalam pikiran dan akhlaknya. Pun begitu, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah berlingkungan agama islam yang baik, yang mewajibkan saya berhijab sepanjang hari, setidaknya selama 7 tahun berturut-turut, juga setidaknya untuk ilmu hidup yang akan saya bawa sampai mati yang tidak mungkin orang tua saya ajarkan di lingkungan rumah saya sendiri. Di sekolah itu, saya diajarkan berbagai hal teoritis sampai menghapal ayat suci Al-Qur’an ayat demi ayat, bahkan saya pernah hapal juz 30 (mungkin itu kebanggaan terbesar saya bisa mengindahkan islam di dalam hidup saya). Akan tetapi, semua itu tampaknya saya lakukan untuk meraih nilai di bangku sekolah saja. Syukur-syukur semua itu bisa saya amalkan dalam keseharian saya semisal membaca surat pendek ketika sholat itu bukan surat pendek sependek Al-Ikhlas lagi, ya, minimal Al-Fajr seharusnya. Dalam hidup saya, mungkin selain kekerasan, selalu menjadi yang terbaik juga suatu hal yang terukir dalam diri saya, dari kecil. Oleh karenanya, saya selalu menilai sesuatu itu dari hasil, meskipun prosesnya tidak maksimal. Dalam hal ini, bukan berarti saya suka mencontek, melainkan saya ini terlalu mementingkan hal duniawi hanya demi meraih prestasi terbaik. Termasuk dalam hal mempelajari seisi agama islam, semua itu saya pelajari secara teori tapi belum pernah bisa masuk meresap ke dalam hati sanubari terdalam. Alhasil, terbukti, memang dari kecil saya lumayan sering dinobatkan sebagai “calon orang pintar” di keluarga tapi kewajiban menunaikan sholat masihlah harus disuruh. Jauh-jauhnya, apalagi untuk berhijab. Hasilnya sih berhijab, tapi prosesnya belang-betong.
Tibalah saya di umur 20 tahun, mulai beranjak dewasa dan matang dari segi pola mikir (mungkin). Kelakuan saya meski sudah sedikit berubah dari kekanak-kanakkan, masih sama seperti biasanya, masih seperti melakukan kegemaran dan hobi berolahraga, main piano beriring menyanyi, belajar, dan lain sebagainya, tanpa ada kegiatan organisasi apapun. Alhasil, dari segi kesibukan, saya benar-benar orang yang individualis dan sedikit bergaul dengan teman, bahkan teman sekelas. Namun, di balik semua ‘kekosongan jadwal’, hal yang paling saya gemari dari setumpuk bakat dan prestasi yang saya banggakan untuk mengisi kesibukan hanyalah olahraga yang saat ini menjadi kebutuhan. Ya, kebutuhan untuk membentuk tubuh. Tidak heran, makanya mengapa saya berperut four-pack dan berotot tangan ‘besi’. Karena saya juga berlatar belakang keluarga penyuka olahraga, bahkan kakak saya dan saya sendiri pernah terjun ke dalam turnamen antar klub bernang tingkat se-provinsi, tidak heran bilamana sampai saat itu (masih di umur 20 tahun) saya belum juga mantap berhijab. Bahkan di mana ada sebuah dokumentasi yang saya upload di media social saat berberkostum agak ‘nyeleneh’ yang menurut orang lain seksi, menurut kami itu masih di batas ambang kewajaran (ya, mungkin karena di klub bernang terbiasa melihat kemolekan tubuh-tubuh perenang yang kekar dan berisi). Itulah alasannya mengapa tidak sedikit pula media social saya dipenuhi dokumentasi agak ‘nyeleneh’ tentang perjalanan hidup sebagai mantan perenang.
Beranjak dewasa dan matang dari segi pola mikir yang saya sebut di sini bukan hanya di bibir semata, melainkan dengan pengalaman hidup yang saya rasakan itu semakin bertambah umur semakin berat juga cobaan hidup. “Itu hal biasa”, mungkin setiap orang akan berkata demikian. Memang, tapi entah karena mungkin saya introvert tadi, jadi apapun cobaannya sebutannya itu cobaan yang menyakitkan. Padahal menurut orang seumuran saya yang disibukkan dengan kegiatan organisasi apapun mereka bilang “cobaan aku lebih menyakitkan”. Hanya sedikit perubahan yang muncul, yakni menggunjing dan ikut campur urusan orang lain, serta lebih focus memantapkan akademis. Sebenarnya ada banyak factor mengapa saya membatasi komunikasi dengan orang lain, terutama teman sekelas, karena saya sudah lelah digunjing mereka, baik saya benar maupun salah, sama saja. Mungkin karena introvert itu tadi, mereka bilang “di kelas diem-diem, di medsos meni edan,” dan lain sebagainya.
Namun, suatu hari, entah dari mana angin malam dan hujan besar tiba, ayah saya mengajak saya ikut latihan kaderisasi 1 Himpunan Mahasiswa Islam. Waduh. Berat juga nih, pikir saya. Bukan berat karena malu tidak bisa baca Al-Qur’an atau tidak mengetahui dasar-dasar tentang Islam, tapi berat bawa nama himpunannya bilamana saya ngepost dokumentasi yang agak “nyeleneh” lagi di medsos. Tapi, akhirnya saya jalani, dengan niat untuk mengisi waktu liburan semester-an, sekaligus membangun pola pikir politik dari perspektif agama islam bersama orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan umur yang berbeda. “Ya, itung-itung ‘pelarian’ dari himpunan di kampus yang ga jelas,” tambah saya. Akan tetapi, selama tiga hari bersama HMI, ekspektasi saya dibayar jauh lebih mahal dari apa yang saya harapkan. Seolah mereka ini membukakan mata saya tentang islam yang bukan dari segi teori saja, yang membukakan hati saya untuk mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan tau tentang politik lebih dalam, bukan oleh paksaan. Iya, bosen teori terus. Keren deh pokonya. Fix, saya juga ga tau harus bilang apa lagi saking speechlessnya. Terutama karena satu orang ini. Dialah alasan tepatnya mengapa saya berniat mantap untuk berhijab saat ini.
Namanya Muhammad Idham Alwi. Mungkin dari pertama pembukaan acara, saya masih apatis, belum begitu mau mencari tahu temen-temen dari luar. Sampai pada akhirnya, dia sebagai panitia, membuka acara dengan membaca lantunan ayat suci Al-Qur’an tanpa membacanya alias hapal di luar kepala. Seinget saya itu bukan surat dari juz 30 (syukur masih inget juz 30 kaya apa), which it means berarti jangkauan hapalan surat pendek dia bukan rentang juz 30 lagi. Edan. Hati saya terketuk malu liat dia pertama kali. Belum lagi, setelah dicari tau, ternyata dia mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota alias PWK ITB angkatan 2015. Dalem hati ini terus berkata, “udah ITB, lebih tua dari urang, hapalan Qur’an dia udah gila juga.” Dan jujur aja, yang bikin saya kepincut dari dia bukan karena fisiknya, tapi cara dia announce himself itu yang unik. Padahal saya posisi masih punya pacar, yang istilahnya bahkan belum ada yang bisa ngalahin image pacar saya. Tapi dia, waduh, gatau lagi deh saya harus bilang apa.
Hari demi hari berjalan dengan kajian tentang islam selama tiga hari di suatu Villa tepatnya di Bandung. Lantas terjadilah suatu insiden di mana salah satu kamar mandi khusus untuk laki-laki terkunci dari dalam. Mau gak mau, mungkin anak laki-laki akhirnya pinjem kamar mandi perempuan yang kebetulan terletak di dalam kamar saya. Ketika saya kajian dan lagi asik-asiknya mengamati pembicara, salah satu panitia mau pinjem laptop saya. Saya ambillah laptop saya di kamar, tapi pas baru mau buka pintu kamar, kok dikunci. Gak lama, Idham keluar dari kamar itu tanpa sepatah kata apapun. Gak bilang, “sorry” atau “maaf” atau apapun. Dia cuma sempet natap mata saya dan setelah itu pergi aja, ga ngomong. Well, aneh, nyebelin, tapi bikin penasaran, semua itu kesan saya soal Idham.
Nyebelin dan aneh karena apa? Karena jujur aja, ga sedikit cowo yang dengan mudahnya minta kenalan sama saya. Menurut kaum adam, saya (katanya) cantik natural, tanpa make-up pun udah cantik. Dan dia, seolah membuang muka terhadap perempuan yang biasa dikagumi kaum adam pada umumnya. Tapi, di posisi saya yang pada saat itu udah kepincut ama Idham, saya play cool. Saya ga banyak ngomong dan ga menunjukkan curiosity. Tapi sepulang kajian selama tiga hari itu, karena ga buka line, line saya ngaburudul. Banyak pesan masuk belum terbalas, termasuk notification permintaan pertemanan dari seorang Idham. Dia nge-add saya pake id line saya. Saya senyum merekah, seneng. Akhirnya, saya bilang.
Sebenarnya saya gatau apa mungkin dia ngeadd saya karena kebutuhan sebagai panitia (jadi ngeadd untuk bikin group) atau karena memang pingin iseng aja. Jawabannya, saya juga gatau. Tapi kalau memang dia ngeadd untuk bikin group, kenapa di group tersebut pesertanya ga lengkap? Cuma saya dan beberapa teman saya aja. Haduh, ya sudah lah. Focus saya bukan mau bicarain Idham sebenernya. Tapi mau bicarain kenapa akhirnya saya berkiblat pada dia perihal memotivasi diri berhijab tadi. Jadi salfok nih ngetik keinget dia wkwk. Istigfar, saya udah punya pacar ya Dham, andai kamu baca ini (terus suatu hari dia baca ini, dia bilang naon maksudna ieu? wkwk).
Akhirnya saya add balik dia di Instagram duluan. Ya, isinya fairly enough keliatan anak organisasi, tapi captionnya, damn it! I like it so much! Anti-mainstream banget. Ga lama, dia ngefoll-back instagram saya. Nah loh. Di situ saya ragu parah. Accept apa engga ya? Saya bilang gitu dalem hati, soalnya isinya waduhh ga senonoh wkwkw. Yaudah terima dulu aja. Dan akhirnya saya ngepoin isi ig-nya lagi, saya juga klik bagian blognya.
Yang asalnya saya suka bilang “anjir”, seketika saya bilang “Masya Allah” pas liat blog Idham. Subhanallah, Maha Suci Allah. Setiap bahasanya, kata demi kata, terukir secara runtut dan bikin hati riuh. Senyum saya ga berhenti tersungging di ujur bibir, merasa maluuu banget melihat faktanya bahwa Idham bukan laki-laki biasa. Jujur aja, dari semua media social laki-laki manapun yang pernah saya lihat, mulai dari instagram kasih tak sampai, kecengan, sampe cowo-cowo sok keren di luar sana, Idham mampu membuat stigma “cowo keren” itu ga harus post foto tentang travelling ke mana-mana, atau pose layaknya artis, atau apapun. Idham menjelaskan semua “ke-keren-an-nya” melalui rasa cinta dia terhadap agama dia dan saya. Saya islam, tapi saya masih sangat jauh dari kata mencintai agama saya sejujurnya.
Dia juga menjelaskan bagaimana rasa cintanya kepada ibunya, yang di mana saya belum pernah lihat di akun instagram kids jaman now ngegombal tentang ibunya. Dia bilang, “She’s my first love.” Pertama baca itu saya kaget banget sambil melotot. Loh, Idham udah punya cewe? Taunya, captionnya belum selesai. Pas discroll ke bawah, hashtag mom. Ya Allah. Saya makin berkaca-kaca liatnya. Mamahnya cantik banget lagi. Beuh. *sujud*
To wrap things up, saya ingin seperti seorang pribadi Idham yang tanpa berpose dan bersolek kaya artis, udah mampu bikin cewe-cewe melting. Begitu pun saya. Saya ingin menyempurnakan fisik dan mental saya hanya untuk calon suami kelak, yang entah siapa itu orangnya, tapi untuk sementara waktu saat ini sih masih belum ada yang bisa menggantikan Ghani di hati saya. Seperti yang saya bilang tadi, menurut kaum adam, saya (katanya) cantik natural, tanpa make-up pun udah cantik, dan lain sebagainya, tapi justru karena itu, saya ingin menutup diri. Saya gamau dosa saya semakin bertambah kalo cara saya disebut cantik itu karena postingan saya di medsos yang “nyeleneh” bukan karena seperti halnya saya melihat image seorang Idham. Karena sesungguhnya, dari cara Idham mengungkapkan pendapatnya di setiap tutur katanya yang bikin hati riuh seperti yang tadi saya bilang, dari situ, wajah dia dan every physical things about him, it makes him perfect. Dan saya ingin seperti demikian, yang cantiknya bukan karena make-up setebel dempul, yang dideketin cowo bukan karena ganjen, melainkan karena image saya yang tanpa banyak ngomong pun udah bikin melting cowo.
Akan tetapi, hal yang lebih jauhnya lagi, bila, ini mah bila ya, bila pada kenyataannya sebenarnya Idham ngeadd line saya punya maksud tertentu, ya, let’s say, he’s also put some interest in me, saya sekarang ga akan semudah menerima cowo begitu saja. Meskipun saya juga suka dengan pribadi Idham, jauh di atas Ghani saat ini, tapi hanya waktu yang bisa menjawab kenapa saya mungkin “menolak.” Saya masih takut masa lalu saya gabisa dia terima. Saya juga takut pribadi saya yang kaku nan impulsive (kadang, dan dulu kaya gitu) membuat cowo seperti dia itu saya sakiti. He’s long way better to deserve.
Sebenarnya, yang paling mengesankan dari latihan kaderisasi itu pula bukan cuma isinya yang berbobot, tapi momen sesudah pertemuan tiga hari itu. Well, sejujurnya, di posisi (masih) break sama akmal, selain idham, ada 2 cowo lagi yang lumayan agak intens menghubungi saya. Bahkan sebenarnya, saya sama idham ga pernah kontak-an, saya terlampau minder dan ga percaya diri. Dua cowo sisanya namanya Aidil, dan Haekal.
Aidil, waduhh dia ini apa ya? Ganteng, standar menurut saya. Akan tetapi, pesona dia berwajah asik dan pembawaannya yang seneng senyum, bikin dia terlihat beda. Dari fisik, aduh, saya ga tega. Dia ga begitu jauh bedanya sama saya, ramping, tinggi badannya sedikit lagi kesusul ama saya. Ga teganya karena sebagai kaum hawa yang seneng olahraga dan seneng judo, ngebanting tubuh ‘gentle’, ibarat gelas kaca di kardus, seperti tubuh dia adalah hal yang mudah. Tapi, ngomongin soal kelebihan dia, dia unik. Pembawaan dia dalam bermateri di hadapan khalayak itu pake sulap. Sulap yang secara real bisa saya liat secara langsung waktu kajian. Jadi secara tidak langsung dia pinter public speaking, dan kalo ada kebutuhan ngehasut di dalem sebuah taktik berpolitik, kayanya dia orang yang paling pas wkwk.
Satu lagi, haekal. Hmmm dia lebih dari sekadar kata unik. Belum pernah dalam hidup saya menyukai orang yang bertubuh agak berisi melewati BMI normalnya. Dari awal saya liat orang ini, first impression saya memanggil dia “si Akang Arab”. Gatau kenapa, bila harus memilih antara kaum korea-china-jepang atau kaum arab-india-turki, saya prefer memilih dan menyukai kaum arab-india-turki. Di otak saya tentang kaum sipit di dunia adalah makhluk terhina ajalah pokonya. Back to the topic, pendekatan kita secara tidak sengaja diawali karena chat. Berhubung dia sebagai ketua komisariat himpunan saya, yang asalnya chat untuk bertanya mengenai urusan himpunan, ehh larinya malah jadi ke arah personal masing-masing. Setiap hari lumaya jadi agak intens chat ama dia dan ngomongin banyak hal asik sampe kadang saya sendiri lupa kalo Ghani masih tetap pacar saya. Saya sadar saat itu, saya kesepian. Saya merindukan rasanya dihubungi Ghani.



Komentar
Posting Komentar